Puisi-puisi
biar aku bertanya:
lalu pada siapa lagi aku harus menangis?
siang, malam,
dan sore-sore yang tua?
bercerita sendiri? seperti orang gila?
ha? itukah yang kau mau?
ayo jawab!
sekarang, kemarin,
besok yang belum?
besok yang ku benci? yang merampasmu?
kenapa diam?
apa kau menangis?
Tidak?
Apa?
Iya?
kau mau kita menangis? bersama?
besok? dengan bayangmu?
***
l-a-n-g-i-t
Tunggu! Tunggu!
Kami masih harus berbenah.
di tanah kami ini semua harus melangkah kecil-kecil
dan satu-satu.
dari belajar mengeja l-a-n-g-i-t
hingga kemarin baru kami tahu langit itu cuma utopis.
sialnya lagi, kami benar-benar bisa dikibuli
“surga itu di langit.”
kami kira bule-bule itu membawa surga, mereka
kan
dari langit.
jauh. surga. meneguk kautsar. menyetubuhi masitah.
enak benar surga itu.
bule-bule datang berhamburan, dari langit.
berkata mereka, “maaf surganya habis.”
eh, malah buraq kami yang nyaris mati ditunggangi.
“resiko,” itu kata bule-bule itu.
tertawalah mereka.
dan kami masih harus terus berbenah. Tunggu!
Menanti bidadari (--yang jauh)
/
Aku pernah berdo’a. bersungut.
meminta bidadari abu-abu
dari-Mu.
yang kepaknya dari emas, Tuhan…
mampu menyiram tanah tandusku
membangunkanku sebelum ayam berkokok
tanda subuh
mengecup keningku yang penuh peluh
sungguh
biar jauh yang harus ku tempuh
hatiku terlanjur luruh dan melepuh.
/
lagi-lagi aku berdoa. bersujud.
meminta bidadari abu-abu
penghias surgaku
penunjuk surga-Mu
penerang. penyejuk. tak telanjang. suci.
sungguh
aku mau, berenang seribu laut
bukan untuk-Mu. bukan untuk-ku. bukan untuknya.
//
Kau jawab malam itu, Tuhan…
terperanjat. ternyata Kau memang Sang Maha.
bidadari datang. menyalamiku.
“apa kabarmu?” ucapnya
sementara wajahnya tak kentara
berlumur cah’ya.
itu bidadari putih, Tuhan?
atau aku salah menerka?
/
paginya, dia kembali membangunkanku
memberiku puisi tentang-Mu.
tepat sebelum ayam berkokok
saat aku masih terlelap
.dia lepas. pulang ke langit luas.
aku cepat-cepat bermohon pada-Mu, Tuhan…
tuk merengguhnya
aku mau, terus terjaga seribu malam
bukan untuk-Mu. bukan untukku. bukan untuknya.
//
Kisah ini, sudah...
entah dengan apa hati ini berdarah
dan perih yang menjadi-jadi
entah dengan apa otak ini hancur
serta erangan yang mau mencabik
entah dengan apa jantung ini terbakar
mendidih
kala kau menghisap ludahmu sendiri.
ludah yang sama, yang kau ludahi padaku
dulu.
sadarkah kau, kau berdarah?
seperti mau menjempu izrail
di pinggir pekuburan yang kau tertawai
besok, jangan lagi kau salami aku
ku minta, ku mohon.
aku sudah penuh darah, hancur, terbakar,
mungkin senja nanti aku mati
apalagi yang kau maui dariku, wahai?
sudah tak ada lagi, bukan?
hilang
langit abu-abu, jingga, --hitam.
merah. menyala-nyala. tadi siang.
kabur
abu-abu lagi.
putih. di subuh yang penuh nyamuk
hilang.
Karya: Hasrul Eka Putra
Save and Share!
Stumble Digg TweetSave Reddit More
Related Posts :