Black to White to Black

Tragis. Aku baru menyadari arti hitam dan putih di usiaku yang ke 12. Sebelumnya, aku tidak pernah benar-benar memperhatikan hal menyebalkan itu. Lebih tepatnya, aku tidak mempedulikannya! Pikirku, masa bodoh dengan kulitku yang bisa dikatakan hitam—nyaris seperti kulit negro. Toh, semuanya berjalan biasa-biasa saja. Aku tetap punya banyak sekali teman. Disenangi semua orang. Aku tidak menjadi semacam back singer atau anak bawang. Tidak ada yang aneh. Yang berbeda hanyalah: kulitku hitam. Aku sekarang benar-benar jengkel dibuatnya. Bukan karena apa, tapi karena hal brengsek itulah aku sulit mendapat pacar seperti yang ku inginkan. Maksudku, pacar yang cantik dan putih. Seperti yang seringkali kulihat di tivi. Sementara teman-temanku sudah berpacaran ria dengan gadis-gadis cantik di sekolah, eh aku hanya bisa menjadi penonton yang setia. Sepertinya, dunia ini hanya milik mereka yang berkulit putih. Makanya, sudah kubilang: tragis! Lebih tragis lagi. Aku sekarang punya panggilan baru. Panggilan yang jika kupingku menangkap frekuensi suaranya, rasanya aku ingin sekali mencekik leher pengucap panggilan itu. “Hai Blackish!... ntar malam kita-kita pada mau nonton bareng. Di TO. Mau ikut nggak?” “Okay tolol!” jawabku gusar. Ingin marah. Tapi apalah daya. Itu bukan gosip, tapi fakta. Fakta yang ingin ku tepis dan ku rubah menjadi gosip. Bisakah? *** Siapa bilang tidak bisa? Hah! There is no impossible in my dictionary! Kata Sang Penakluk Eropa, Napoleon. Sebuah ungkapan manis yang sedang ku coba tuk yakini. Prinsip baru untuk tekadku yang nyaris bulat. Kamarku sekarang berubah menjadi semacam salon pribadi. Ada pelembab, lotion, hingga lulur pemutih. Semua yang berhubungan dengan putih, putih, dan putih, ada di kamar ini. Kamar yang dulunya gentle kini maskulin. Feminis malah. Mertroseksual juga mungkin. Apapun itu istilahnya. Aku tak peduli. Yang ada di kepalaku hanyalah: Black to White. Dan, tunggu saja, kalian akan heran melihatku ‘berubah warna’. Hari minggu. Tubuhku terlentang di atas kasur. Ada bebauan aneh yang tercium di setiap penjuru kamar. Menusuk hidung. Aku tak perlu repot-repot mencari asal bau-bau aneh itu. Karena tubuh-ku-lah biangnya. Lulur yang menempel malu-malu di sekujur tubuhkulah penyumbang bau terbesar pagi itu. Hari ini jadual memakai lulur tradisional. Lulur berwarna hijau rumput sudah aku tuangkan di atas cawan berukuran sedang. Ku campur sedikit air, minyak zaitun, dan sesendok susu bubuk putih hingga seperti adonan. Baunya? Hhhmmm... tak perlu aku jelaskan. Kulit putih. I’m coming... *** Jaket coklat tebal membungkusku. Topi bertenger di kepala. Padahal matahari tidak terlalu terik (untuk ukuran orang-orang tropis). Biasanya dulu dengan keadaan cuaca seperti ini, aku akan dengan senang hati naik motor keliling kota tanpa atribut yang sekarang sedang ku kenakan. Tapi sekarang, no way. Aku harus sebisa mungkin menjauhi bahkan—kalau saja aku sanggup—memusuhi mahluk Tuhan yang selalu bersinar garang di atas sana itu. Berlindung dari panasnya. Penampilanku-pun ikut-ikutan berubah. Baju-baju berlengan panjang telah dengan gemilangnya menggantikan kaos berlengan pendek yang dulu gemar ku pakai. Celana ceperku pun mengalami nasib sial yang sama. Mereka harus merelakan jatah pakai mereka dan harus rela menunggu dengan sabar untuk ku kenakan. Tapi kapan? Kapan kau akan mengenakan kami sesering dulu? Kata mereka. Sabar. Sebentar lagi kalian akan kembali berkuasa, kilah ku. Walau tubuh rasanya mau menguap, keringat berhamburan keluar, dan pengap terus-terusan menyergap, tak apalah. Untuk sebuah tujuan ‘mulia’, untuk wajah-wajah keheranan yang melongo saat nanti melihat Ari yang baru. “Ari, apa yang... akh, kau benar-benar tampan sekarang.” “Bagaimana bisa, Ri? Pakai apa? Wah, pasti perlu perawatan ekstra mahal nih? Ciieee...” “Aku tak sanggup mengatakan kata ‘tidak’ padamu, Ari. Aku mau menjadi seseorang dalam hari-hari indah mu. Aku, aku... I love u.” Yah, aku sudah begitu tidak sabar mendengar decak-decak kekaguman seperti itu. Dan, ah, Putri, sambutlah cintaku. Kelak, kau tidak perlu menolak cintaku yang alasannya mungkin karena kulit sialan ini. Aku pasti mendapatkan hatimu. Hari berganti minggu. Seminggu. Dua minggu. Tiga minggu. Sebulan. Kenapa, belum ada perubahan yang berarti dengan kulit hitam ke-negro-negro-an ku. Kalau aku bandingkan dengan foto sebulan lalu, hanya ada peningkatan sedikit brightness di wajahku. Tangan, lengan, betis, dan target pemutihan lainnya masih kelihatan tidak berubah. Lah? Apa semua ini masih kurang? Lulur yang ku pakai? Pemutih? Pelembab? Baju dan jaket yang selalu membungkus? Sia-sia? Maybe yes, maybe no... Hatiku mulai ciut. Tak bersemangat. Rasanya Putri menolak cintaku untuk kedua kalinya. Kulit sialan ini belum juga pergi dari tugasnya membungkus organ-organku. Aku mulai mempertanyakan konsep keadilan yang Tuhan terapkan (padahal mulanya aku berusaha sebisa mungkin untuk tak membawa-bawa Tuhan dalam problemaku ini). Ironi. Tak adil. Kalau saja bisa memprotes Tuhan, aku mau menuntut ganti rugi atas semua yang telah Dia ‘anugerahkan’ ini. Tidak adil. Sayangnya, sia-sia aku berpikir menyalahkan Tuhan. Dia tidak pernah menjawabku. Yang ada malah Dia terus membiarkanku bergelut dengan ‘anugerah-Nya’ itu. Aku semakin terpuruk dengan harapanku sendiri. Blackish. Negroish. Si Item. Bulan bertambah seminggu. Dua minggu. Tiga minggu. Dua bulan. Tiga bulan. Berlalu. Cowok tinggi dengan kulit sawo matang itu membalasnya dengan gerakan bibir yang juga berbentuk perahu. Sama manisnya. Aku tesenyum di depan cermin besar yang tergantung di samping lemari kamar. Memandangi sosok tadi. Refleksiku. Oh ya, maafkan aku. Dua bulan ini aku sibuk me-make over mahluk sialan yang kau tahu apa hingga aku lupa menulis. Aku memutuskan untuk tidak menyerah pada hasil perawatan sebulan (sebenarnya: aku hampir saja menyerah). Dua bulan yang berat untuk-ku. Jika saja aku tidak terus berpikir bahwa sedikit lagi dunia akan mengangguk kagum kepadaku, mungkin aku telah menyerah dalam ketakberdayaan. Tetap legam. Pekat. Aku rasa, semua orang tidak perlu tahu bagaimana kulit hitam legamku menjadi seperti ini. Sawo matang. Bercahaya. Membuatku bangga dan percaya diri melangkah sebagai The New Ari. Ari yang baru. Bukan karena apa. Melainkan, karena cerita itu terlalu panjang untuk di uraikan. Aku sudah cukup lelah dengan semua itu dan aku tidak ingin menambah letih ku dengan menceritakannya kepada semua orang. Selain itu, akupun harus memiliki kekuatan ekstra. Lahir (aku cukup percaya bahwa persiapan lahiriyah ku telah 1250 %!Hehehe) dan, mental (ini, ini, yang hingga sekarang belum ku tempa). *** “Aku mencintai mu. Bahkan aku bisa saja mati jika sehari saja aku tidak melihat wajah cantikmu. Maukah? Maukah engkau menjadi pacarku, Putri?” Sumpah! Aku benar-benar tidak sadar dengan apa yang sedang ku katakan. Semuanya mengalir begitu saja. Putri ku ajak bicara di belakang kelas dan—aku katakan semuanya. Dia tertawa. Bukan reaksi yang aku harapkan. (yang ada dipikranku adalah: dia tertegun, takjub, mengiyakan petanyaanku, dan—harapan liar—memelukku). Dia tertawa semakin renyah. Gigi taringnya menyembul terlihat. Pipi putihnya merona. Dia cekikikan. Dia menghinaku dengan cara itu. “Ari, ari... kau tampan sekarang,” dia terus tertawa, “aku hanya merasa lucu,” terus tertawa, “ melihat perubahanmu yang,” lagi-lagi dia tertawa (brengsek!), “drastis.” Ini benar-benar penghinaan. Namun, aku masih bergeming. Menunggu kata selanjutnya yang mungkin bisa meredam semua ini. Kata “Ya”. “Ya,” cetus Putri dengan nada yang kelihatannya mulai serius. Apa kataku! Dia akan berkata itu. Hahaha... akhirnya. “Ya? Apa yang kau maksud adalah engkau mau menjadi pacarku?” tanyaku meyakinkan. “Ya, aku menerimamu,” dia tersenyum sekarang. Senyumnya yang manis sekali. (aku tak percaya, sekarang senyum itu milikiku? Yes!) “Aku tidak mempercayai apa yang ku dengar.” “Aku juga mencintaimu, sayang... Ari-ku,” aku terpaku mendengarnya. “tapi aku ingin meminta satu hal darimu, Ari,” sambung Putri. “Apa? Katakan saja. Semua akan kulakukan untukmu. Katakan. Aku rela melakukan apa saja untukmu, Putri...” sergapku tak sabar. Ya, aku tidak ingin ada sesuatu lagi yang bisa menghalangi Putri menjadi pacarku. Milikku. Aku sudah tak sabar. “Benarkah?” “Swear!” kataku dengan jari tengah dan telunjuk yang menjulang. “Ari, aku kagum melihat perubahan mu. Aku benar-benar terkesima,” dia mengatakannya dengan gurat wajah takjub (tidak bisa aku pungkiri: aku terbang), “tapi...” dia berhenti sejenak, “aku lebih suka kau yang dulu” “Apa?” “Aku menginginkan Ari-ku yang dulu. Yang kelihatan begitu perkasa dengan kulit hitam manisnya. Andai saja kau masih seperti Ari yang dulu tentu aku,” “Stop!” aku tidak mau lagi mendengarnya. Putri tergugu. Aku memandang tanah dengan dada naik turun. Entah kenapa, dadaku sesak. Bukan karena syarat yang diajukan Putri. Bukan karena tertawaan Putri sebelum Dia mengatakan “Ya”. Bukan karena lulur, pemutih, atau apa yang baru ku sadari percuma. Bukan karena baju-baju lengan panjang dan jaket tebal yang selalu menyiksa tubuhku karena gerahnya. Bukan karena semua pengorbanan yang telah aku lakukan. Bukan karena semua itu. Tapi karena aku. Yang bodoh mau diperbudak oleh dunia. Tidak melihat sisi terang dari kulit ku yang legam. Hahaha... kini aku yang tertawa melihat cermin. Memandang bayanganku. Besok, kamarku akan kembali macho. Kamar Ari. Ari si Blackish. Seharian menekan tuts, 090607 /Aku baru sadar/ bahwa aku menggengam cahaya/ Yang masih terbungkus/ menunggu untuk dibuka// (inspired by my younger cousin. U’re not as if)



Karya: Hasrul Eka Putra