AKU ternganga saat terbangun. Inilah pagi yang pernah ku pinta. Persis seperti doa yang pernah ku khadiratkan. Pagi yang putih. Tanpa sinar jingga keemasan di ufuk. Di cakrawala yang setiap pagi berpendar. Rumput-rumput yang memutih, bukan hijau seperti kemarin. Di atas sana, awan-awan bergumpal seperti gua-gua salju raksasa. Benar-benar pagi yang putih—yang pernah ku mohonkan.
Aku bergegas ke kamar kecil di pojok kamar. Memutar keran air. Membasuh muka dengan tergesa-gesa. Aku hanya ingin memastikan bahwa aku tidak sedang bermimpi. Sebab ini terlalu indah untuk kehidupan. Ini seperti sebuah tempat di negeri dongeng yang pernah ku baca di majalah anak-anak bertahun-tahun lalu. Ini bukan pagi yang biasa menyapaku dengan warna-warninya.
Segera aku keluar ke beranda yang menghadap ke barisan bukit dan padang sabana. Lihat, bukit-bukit, rumput-rumput, belukar, pepohonan, bebungaan, dan segala yang terhampar disana adalah warna itu. Warna kertas putih yang tak bernoda. Serba putih. Laksana ada seseorang yang telah dengan susah payah mengecat dunia dengan warna itu.
Aku mulai merinding melihat semua ini. Dulu—saat aku mendoakan hal ini—aku tidak mengira bahwa pagi seperti ini akan benar-benar datang. Setahu-ku ini hanya imaji. Mimpi. Bahkan utopis. Aku mengucek mata dengan punggung telunjuk hingga terasa sedikit perih. Perih yang semakin meyakinkanku bahwa aku tidak sedang bermimpi. Perih yang malah mengisi hatiku dengan berjuta tanda tanya.
Aku kembali kekamar, membangunkan Jihan yang masih memeluk bantal guling bulu angsanya. Masih terlelap dengan piyamanya yang putih. Dia masih sangat terlelap. Mungkin karena semalam kami bercinta hingga akhir malam.
“sayang, sayang,” ku guncang tubuhnya perlahan, “bangun. Ada yang mau ku tunjukan padamu, sayang. Bangunlah.”
Kelopak matanya memincing.
“ada apa sih? Ini kan masih pagi. Aku masih ingin tidur, sayang”
Aku duduk di samping jihan. Kali ini berbisik.
“ayolah, kau harus menyaksikan ini. Ini benar-benar luar biasa. Lihatlah, matahari pagi ini, lihat awan-awan itu, sayang,” aku bangkit dan membuka gorden putih yang tadi malam masih berwarna biru, “sayang, buka matamu! Lihat! Lihat! Semuanya putih, sayang…”
Cahaya putih menyusup masuk, membuat setiap benda di kamar ku menjadi abu-abu, lalu—memutih. Semburat cahaya itu membuatku kian bersemangat memberitahu Jihan. Aku tidak ingin dia menyesal karena melewatkan saat menakjubkan ini.
“sayang, ayo bangun. Lihat, kini semuanya menjadi putih. Matahari, kebun lily mu, kamar kita, dan semuanya. Sayang, apa kau ingin melewatkan semua ini?”
Aku beranjak duduk di sampingnya lagi. Membelai rambutnya yang harum. “bangun…..” aku berceloteh seperti anak-anak yang merengek.
Mata Jihan akhirnya mulai bulat terbuka. Mulutnya terbuka lebar, menguap, sambil merengangkan tangan dan kakinya dengan malas di tempat tidur.
“sayang, ayo cepat. Kau harus menyaksikan ini. Ini jawaban atas doa ku waktu kita baru menikah dulu. Masihkah kau ingat, sayang? Doa yang kau amini dengan tertawa kecil. Ingat?” aku menjelaskan dengan mata yang masih menatap ke balik jendela. Hamparan rerumputan seputih salju di musim dingin. Bedanya, pagi ini ada matahari yang bersinar hangat. Aku tertegun. Takjub.
“aku masih ingat, tentu. Doamu atas negeri ini, bukan?” ucap Jihan seperti masih terjaga.
“ya, doa itu. Doaku agar negeri ini bersih, suci, putih, tak bernoda. Doa ku agar ada suatu pagi di negeri ini yang benar-benar putih. Tidak terkotori oleh tangan-tangan manusia yang seakan-akan ingin memiliki kecerian pagi. Tidak diesesaki oleh asap-asap penuh racun dari cerobong dan knalpot yang selalu menderu. Pagi yang yang tidak dibanjiri cairan merah anyir yang tumpah dari daging-daging tak berdosa. Pagi yang putih. Ayooo, segeralah bangun. Kau lihat mimpi itu kini ada di hadapan indra mu, sayangku…”
“engkau sedang bermimpi, barangkali. Yang aku tahu semua itu tidak mungkin terjadi,” Jihan bergumam dengan mata yang kembali terpejam “tidurlah dulu. Kau kurang tidur. Tadi malam kita menghabiskan malam tanpa tidur.”
“tidak, tidak Jihan. Kau tidak bisa melewatkan pagi ini. Aku tidak sedang bermimpi. Ini nyata. Ini pagi yang ku ceritakan tadi. Lihat, aku bisa menyentuh perdu yang telah memutih. Apakah ini hanya mimpi?”
Jihan kembali bergelanyut ke dunia mimpinya.
“kau harus percaya, sayang. Mana mungkin aku membohongi mu? Pagi ini negeri ini telah menjadi putih. ku mohon, bangunlah sayangku…”
Aku kembali ke sisinya. Merangkul leher Jihan. Mengangkat. Memaksanya untuk beranjak bangun.
Dengan malas dia bergerak.
“ayolah, sayang. Aku mohon… aku mau membagi pagi yang luar biasa ini denganmu”
“aaaahhhh…. Baiklah, aku bangun,” matanya terbuka dan bibirnya menempel di pipiku, “nah, sekarang, mana hal yang kau ceritakan tadi, mana sayang?”
Aku menghamburkan pandangan ke seluruh ruangan, “lihat, semua menjadi putih,” kemudian aku memandang jauh ke luar jendela, “bukit-bukit itu, langit, bebatuan, pohon-pohon, kau lihatkan sayang? Semuanya menjadi putih, persis seperti doaku waktu itu.”
Jihan memandang ke setiap arah yang ku maksud. Kelihatanya di juga kini heran dan terperangah. Aku senang melihatnya. Ternyata dia juga bisa menyaksikannya ketakjuban ini. Dan tidak lagi mengataiku ‘pemimpi’.
“putih?”
Aku kaget mendengar pertanyaan Jihan itu, “ya, putih. apa kau tidak melihat semua ini berubah. Hey lihat, burung gereja itu! Seluruh badannya putih. Sayapnya begitu indah dengan warna itu” celutukku dengan seulas senyum pada Jihan.
“aku memang melihat semuanya berubah, sayang”
“ya, pasti. Itu pasti. Semuanya berubah putih kan?
Mata jihan menerawang ke kejauhan. Ke hamparan cakrawala matahari pagi—yang putih.
“merah.”
“merah? Oh iya, semua ini akan kelihatan lebih indah jika ada warna merah. Bukankah itu dua warna sakral negeri ini? Ternyata kau seorang nasionalis juga, sayang… aku bahkan tidak sempat berpikir untuk menambahkan warna itu sebagai pelengkap semua ini. Bagiku, ini terlalu indah untuk dinodai.”
“tidak bukan itu maksudku, bram” pupil Jihan membesar, tanda terpesona, “tak ada putih disini, melainkan merah. Merah, sayang… Apa kau dari tadi salah menyebut warna?”
“aku tak percaya,” aku melepas tubuh Jihan yang daritadi terus ku rangkul. Mana mungkin aku salah menyebut warna, “semua ini putih, putih, dan putih. Kau saja yang belum sepenuhnya bangun, Jihan. Lihatlah dengan saksama. Masa’ kau bisa salah menyebut putih dengan merah? Separah itukah efek mengantukmu?”
“aku tidak mungkin salah, Bram. Matahari, awan-awan, burung gereja tadi, langit, bukit-bukit, semunya merah. Seperti darah yang baru terpancar dari jantung. Aku ngeri, Bram. Ini semua mimpi, bukan?” cakap Jihan dengan getaran-getaran tak biasa di setiap nada suaranya.
Jihan memelukku. Pelukan ketakutan.
“kenapa? Tidak ada yang perlu ditakutkan disini. Ini menakjubkan. Putih, sayang. Putih. Bukan merah seperti yang kau katakan. Bukalah matamu,” aku memandangnya “lihat, putih kan?”
Jihan memelukku lebih erat. Seperti mau menyatukan dua raga. Aku terus memandang pagi yang ku impikan ini. Langit yang putih. Tanah yang putih. Bumi yang putih. Negeri yang putih. Siapa tahu besok pagi ini akan menjadi merah, seperti yang dilihat Jihan pagi ini.
Tanah yang basah, 250707
/Gila!/
Aku belum bisa menghapus noda-noda merah/
di hatiku yang berdarah//
Dikutip dari: Hasrul Eka Putra
Save and Share!
Stumble Digg TweetSave Reddit More
Related Posts :