Pacarku, Pelacurku?

Ku pikir dia mau memelukku.

Dengan erat seperti waktu itu.

Dan menciumku. Dengan ciuman yang dulu selalu.

Dan aku memang berhasil. Memeluknya dan menciumnya semesra yang aku mau. Membuatnya merasa nyaman dan hangat, itu inginku. Lama ku memeluk dan mencumbu. Lampiaskan imajinasi yang terkurung. Melepas hasrat yang membumbung. Membuat dia tertawa karena seringkali dia memelukku hingga aku tidak bisa bernafas.

Tapi dia kelu. Seakan tak bernafsu.

Dia tidak memelukku.

Dia tidak mencumbuku.

Ya, aku baru sadar. Sedari tadi hanya tanganku yang terlingkar ditubuhya. Hanya bibirku yang menari-nari dimiliknya. Dia sendiri kaku. Hanya memandangku teduh. Pandangan yang layu. Bukan pandangan liarnya yang biasa. Yang bisa membuatku bernafsu... Tidak.

Ku tarik bibir yang telah merona. Ku lepas dekapan. Wajahnya tertunduk ke bumi.

Ahh..kenapa dia!

Ku guncang tubuhnya. Dia diam. Sekali lagi kulakukan hal yang sama. Masih diam.

“Kenapa kau?!”

Dia hanya memandangku. Lagi-lagi memandangku. Tanpa berkata.

Apa karena semalam aku lupa meneleponnya? atau sesuatu telah terjadi pada dirinya? atau malah pada diriku? atau dia sudah jenuh dengan semua ini? ataukah dia tlah memiliki pelukan lain yang lebih hangat? atau...

Aku berpikir dan bertanya entah pada siapa.

Aarrrgghhh... Aku benci. Aku benci pada dunia yang selalu membawa terlalu banyak kemungkinan. Terlalu banyak probabilitas diantara realita.

“KENAPA KAU?!” aku tak mau lebih lama lagi menerka.

Wajahnya bergerak. Pelaaaan sekali. Diangkatnya perlahan. Hingga terangkat tegak. Tepat di depan wajahku. Mulutnya turut bergerak. Bergumam. Berbisik sangat lirih. Aku mencoba fokus pada gerakan organ yang tadi ku kecup mesra itu. Rahangnya sedikit terbuka. Melebar. Seumpama tersenyum.

Ku cerna. Sepertinya itu huruf S. Benar, itu S. Huruf yang selalu mengawali pagiku. Saat dia berkata, “sayaaang...”.

Lalu?

Kutunggu... lama. Kemudian dadanya mulai mengembang. Seakan ingin berkata sesuatu yang teramat berat. Berat sekali. Bibirnya bergerak lagi. Pelan seperti tadi.

Lalu?

Tak ada. “Hhhhhhhhh.... “ hanya desahan berat yang keluar dari mulutnya.

Aku mulai marah. Apa maksudnya semua ini? “dia bermaksud mempermainkanmu!” egoku berbisik. Aku menguncang lagi tubuhnya. Lebih keras. Rambut panjangnya yang legam jatuh terurai dan melayang kesana-kemari.

“Hentikan, All! Hentikan!”

“Tidak, sebelum kau jelaskan ada apa!” aku tidak mau mengalah. Aku sudah cukup sabar menunggu jawaban itu dari tadi. Aku tak mau menunggu lagi.

Dia menggengam. Dan menghempaskan kedua tangan yang sedang membuatnya merasa begitu tidak nyaman. Kini giliran aku yang terdiam.

Hening. Malam yang bening. Lampu-lampu berpendar redup terang.

“Siapa aku?” katanya pelan. Hampir tak terdengar.

“Apa? Apa yang kau tanyakan? Kau? Apa yang....”

“SIAPA AKU?”

Sekarang keadaan berbalik. Dia balik meneriakiku dan mulai menguncang-guncangkan tubuhku yang mulai terpaku. Benar-benar terbalik.

“Kau? Kau Giska! Giska Aprilia... pacarku, pacar All. Noval Baskoro. Kau...”

“Aku apa?”

(dia selalu memotongku dan menatapku dengan dengan ekspersi yang tak bisa ku gambarkan. Marah? Lelah? Berontak? Pasrah?).

“Maksudmu?”

“Apa aku pacarmu? Apakah kau mengaggapku begitu?”

Ha? Aku tak mengerti inti pertanyaannya. Kenapa dia? Kenapa Giska? Apa dia telah gila? Ku jawab enteng.

“Absolutely! I’m your only one. Your boyfriend who love and loved by you... and there is no doubtness, i know you much. All of yours is mine. Mines in yours. Kenapa kau bertanya seperti itu, sayang?”

Entah kenapa. Aku menambahkan kata ‘sayang’ itu dengan begitu canggung. Rasanya kata itu telah berpuluh-puluh tahun lalu aku katakan.

“Tidak! Aku bukan Giska, pacarmu. Bukan.”

“Kau sudah gila ya?”

Aku benar-benar marah sekarang. Apa maksudnya semua ini? Apa artinya semua ini? Malam ini perasaaku sungguh dipermainkan. Baru sejam lalu aku larut dalam kebahagian saat mencumbunya. Baru setengah jam lalu aku heran ketika dia mulai bertingkah aneh begini. Baru sepuluh menit lalu dia terdiam didesak olehku. Baru lima menit lalu dia berbalik mendesakku. Baru semenit lalu aku memanggilnya sayang. Lalu setelah itu, aku marah.

“Aku pelacur... mungkin lebih hina dari itu. Dan kau, ya kau, malah membuatku seperti itu. Kau sama sekali tidak mencintaiku.”

“Aku tak mengerti dengan apa yang sedang kau bicarakan. Aku mencintaimu. Aku menyayangimu. –Dan KAU BUKAN PELACUR!”

Aku dan dia diliputi emosi. Amarah sudah diubun-ubun. Tangan terkepal. Setan telah berhasil membakar api di hati ku—dan dirinya.

“Kau selalu menyentuhku. Menggengam tanganku. Memeluk tubuhku. Menggeluti bibirku. Tanpa malu. Tanpa permisi.”

Dia menangis sekarang. Terisak. Pipinya yang putih, memerah. Aku masih berkubang emosi.

“Apa? Bukankah itu wajar? Kita telah pernah membicarakan ini... dan, lagipula, aku sama sekali tidak pernah memaksamu untuk itu. Kau menerimanya begitu saja.”

“Karena itu! Karena itu! Aku lebih hina dari seorang pelacur. Aku membiarkan kau begitu saja menikmati tubuhku. Menghina kehormatanku atas nama cinta. Atas nama pacaran. Dan aku diam saja.”

Tangisannya semakin keras terdengar. Malam yang hening telah dipenuhi oleh suara isakan dan airmata.

Aku bisu.

Malam kembali hening. Bintang-bintang mengerling. Menonton kami dengan saksama.

“Bukankah kau mencintaiku, All? Bukankah kau ingin orang yang kau cintai terhormat. Tidak terhina?”

Aku mengangguk. Masih dalam diam.



***

Ku pikir dia mau memelukku.

Dengan erat seperti waktu itu.

Dan menciumku. Dengan ciuman yang dulu selalu.

Tapi malah aku yang kini pergi. Membawa sepi. Aku harus menulisi hati. Dengan puisi dan cinta yang memuliakan dia. Dan membunuh setan birahi yang selama ini menopengi-ku. Kalau nanti aku memang bisa memeluk dan mencumbunya,

“Bukan sekarang All. Belum sekarang...” jawabanya terus terngiang.

Belum sekarang. Bukan saat ini, ketika ijab kabul belum terdegung.

Di ranjang pengantin. Di ranjang surgawi.



Nanti...













Detik dimana waktu menertawai kita, 210506

/”Dunia ini adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan adalah wanita solehah”//




Karya: Hasrul Eka Putra