Sebuah keangkuhan hati

Untuk Seutas senyum yang ku tunggu dan dia yang mencintaiku...



Wahai kau—yang membentuk hatiku...

Tak tahu keinginan apa yang kini membuncah nakal dari dalam hatiku. Setelah apa yang telah kau lakukan kepada hati ini, setelah apa yang kau torehkan dalam-dalam ke jiwa ini. Aku tak tahu lagi apa yang harus ku lakukan...

Aku teramat heran padamu, entah keajaiban dari langit mana yang membuatmu melakukan semua ini pada-ku. Entah kau buang dimana semua hal yang sering aku katakan dan selalu ku dengar dari-mu. Entah kau anggap apa aku?!



Wahai kau—yang mengajarkanku begitu banyak hal...

Aku tahu kau sebernarnya sadar bahwa apa yang kau lakukan itu adalah salah. Sama sekali salah! Aku tahu bahwa kau tak pernah sedetikpun membayangkan—bahkan dalam hayalan terliarmu pun—bahwa pada akhirnya kita akan seperti ini. Aku tahu, kau tidak pernah menyangka karena tindakan bodohmu itu ada banyak airmata yang harus keluar, akan ada banyak harga diri yang harus terinjak, akan ada berjuta janji yang terabai. Seandainya saja aku tidak terlambat mengetahuinya, mungkin keadaannya tidak akan seperti ini.



Wahai kau—yang memberi semua cinta...

Harus ku akui, aku menangis jika mengingat ini. Lihat! Betapa menjadi lemahnya hatiku karena itu... padahal aku pernah berjanji pada diriku sendiri bahwa aku tak akan menangis hanya karena wanita. Tapi, janji dan prinsip yang selama ini ku genggam erat hancur tak terelakkan layaknya pecahan beling gelas kaca yang jatuh begitu saja. Seperti itu juga hatiku. Bahkan lebih hancur dari itu.

Sakit...teramat sakit...menusuk dan membuatku seakan tak mau lagi tuk bernafas...

Perihnya lebih perih dari goresan pedang tajam (yang ada di ruang tempat kau menungguku, di kastil-mu)... sungguh perih...



Wahai kau—yang membuatku begitu...

Dengan sisa-sisa ketegaran dan harapan akan hidup, kau memberiku penjelasan panjang lebar yang saat itu bagiku tak lebih berarti dari desiran angin senja bulan desember. Waktu itu, kau tiba-tiba menjadi wanita yang paling ku benci seumur hidupku. Sebanyak apapun airmata yang kau tumpahkan saat itu, bagiku itu hanyalah air yang sengaja kau tumpahkan untuk membasuh dan mencuci kesalahanmu. Tak lebih dari itu. Kau tahu, saat itu aku begitu ingin menamparmu... jika saja Nabi-ku tak melarang pria memukul wanita, entah sudah semerah apa pipi halus mu waktu itu. Aku-pun mencaci mu. Mengataimu dengan ucapan yang tak pernah ku berpikir kalau suatu saat aku aku berkata seperti itu padamu—orang yang pernah dengan sepenuh hati aku cintai...

Hatiku panas. Terbakar api cemburu. Dihanguskan perasaan terinjak-injak oleh dirimu. Ya, aku tidak pernah merasa se-hina itu! Saat semua orang mengatakan bahwa wanita yang selama ini dengan setia dan tulus ku cintai (meski kau tahu bahwa hal itu ku lakukan dengan berjuta pengorbanan perasaan manusiawi-ku) malah membunuhku dan menduakan ku.

Hancur lantah. Sesak sekali waktu itu dadaku untuk bernafas.

Kau terus menangis... dan bermohon untuk cintaku. Entah sudah berapa liter airmata yang kau teteskan air itu. Tapi saat itu bagiku, kau tak lebih dari seorang anak kecil yang menangis meminta permen. Tak berarti apa-apa. Menangis lagi—kau terus seperti itu.

Terisak bagai bayi yang tak bisa hidup tanpa susuan bundanya.





***

Di bangsal sekolah (tempat yang banyak menjadi saksi kisah KITA) kau berbicara dengan segala gurat penyesalan dan harapan. Sejujurnya; semarah dan sebenci apa aku padamu, aku selalu luruh dan tak sampai hati melihat wajah lugumu itu penuh anak sungai kesedihan. Lihatlah, kala itu, aku tak tahan menatap lama wajah itu. Aku takut untuk menjadi lemah karena tangisanmu...ego-ku berkata begitu.

Kau memaksaku untuk memandangmu, tidak! Aku tak mau (lebih tepatnya: aku tak mampu)... kau tak berhenti menangis. Kemudian kebencianku kembali melompat keluar, aku terus mengataimu dan mulai menyesali setiap detik kenangan

dan hari-hari yang pernah KITA lalui. Kau terus bersumpah bahwa kau tidak seperti itu—tidak seperti apa yang semua orang katakan. Tapi, apalah artinya itu buatku?

Wahai kau—yang membuatku merasakan hitam

Aku mulai sadar, walau bagaimanapun kau pernah menjadi bagian terbesar dari hari-hariku. Pernah menjadi orang yang tak rela ku tukar dengan langit sekalipun. Hatiku tergerak—meski hancur dia masih juga membela mu, lihatlah!—. Ego-ku menapik. Kau tahu saat itu hatiku menemui kebingungan yang sangat: membuangmu atau sekali lagi memberimu kesempatan.





***

Ternyata kau menang. Hatiku memilih untuk memberimu kesempatan meski kebencian, amarah, dan kekecewaan yang maha besar masih terus menggerogotinya. Tapi pilihan harus ku berikan, pilihan yang mungkin bisa menyembuhkan luka dan mengembalikan semua harga diriku yang diburai lemas oleh orang yang sangat ku cintai. Aku menawarkamu pilihan itu dan berpuluh syarat (yang sebenarnya itu untuk dirimu sendiri). Ku ingin kau berubah. Menjadi wanita yang benar-benar wanita. Wanita soleh yang berbudi, berbakti, dan berprestasi. Masih di bangsal sekolah—dengan beberapa tetes airmata karena ternyata hatimu tak mampu menerima pilihan dari jiwa yang kau sakiti itu. Tapi kau tetap menyanggupinya.

Senja yang mulai menguning mengantarnmu kembali kerumah.





***

Hampir tengah malam, kau ( JANGAN PERNAH LAKUKAN ITU LAGI! ) berjalan sendiri, membawa hati yang terus menangis, menelusuri jalanan asing yang belum pernah kau lalui. Sejenak kemudian (karena kata-kata kebencian yang kukatakan padamu) kau malah memilihi untuk tak hidup lagi, meninggalkan semua masalah, luka, dan kenangan tentang KITA. Aku bermohon kepadamu untuk kembali... percuma! Kau bahkan terus menelusuk kedalam pekatnya malam minggu yang mulai menggigit kulit. Aku putus asa... dengan kebencian yang belum juga berkurang sedikitpun ku caci dirimu, dengan makian yang bahkan aku sendiri benci mendengarya. Bodoh! Begitu hatiku selalu berkata tentangmu...

Kau bergeming. Entah dengan sabar atau benci kau katakan “TERSERAH KAU MAU BILANG APA, yang penting aku sekarang masih kekasihmu dan kau sekarang masih kekasihku...”. Aku terhenyak. Terdiam oleh caramu mempertahankan cinta ku ini. (saat itu hatiku sepertinya mulai sadar bahwa sumpahmu benar adanya).

Namun aku tak mau secepat itu percaya.

Berjam-jam kita berkirim pesan mengungkapkan hal-hal yang tersembunyi selama ini, menghancurkan kata-kata indah yang dulu selalu kita katakan. Hingga tak terasa sudah tiga geseran angka jarum pendek jam dari tengah malam. Aku lelah...sangat lelah... aku hanya ingin tidur dan berharap saat membuka mataku di pagi nanti, semua ini tidak ada, hanya mimpi buruk karena mungkin aku lupa berdo’a.... aku berharap bahwa esok nanti nenek tercintaku akan membangunkanku dari mimpi buruk ini, kemudian aku—seperti biasa—akan mengirimkan ucapan selamat pagi dunia untukmu yang juga bahagia menyambut hari.

Namun, memang benar, harapan hanyalah kekecewaan yang di tunda.

Tak mungkin semua ini hanya mimpi... hhhhhh...

Aku lelah dan tertidur. Lelap meski penuh dengan degupan kencang jantung ku yang masih sangat terkejut dengan kejadian yang menimpanya siang tadi. Lelap ku tidur malam itu... melupakan sejenak dirimu yang entah berada di kegelapan mana.



***



Wahai kau—yang tak tahu sekarang aku sedang menangis...

Seorang teman (yang juga temanmu) memanggilku siang itu. Tepat ketika matahari bergantung di atas kepala petala langit. Dia memanggilku untuk melihat bahwa apa yang ku ingin kau perbuat akan kau lakukan. Aku ingin semua orang tahu bahwa kau menyayangiku dan mencintaiku! Dan tak ku sangka, kau melakukannya. Kembali ku terdiam, heran pada diriku yang sepertinya kini menjadi begitu egois. Tapi ku tak mau. Aku tak mau pergi melihatmu, karena aku takut aku akan tak tahan melihatmu seperti itu, sama dengan tidak tahannya jiwaku jika melihat kau menangis.

Sekarang mungkin semua orang telah tahu bahwa kau memang benar-benar menyayangiku...

Syukurlah...



Wahai kau—yang senja itu kembali membuatku menangis...

Saat itu aku begitu menyesal, kenapa kau harus bertemu denganku? Pria yang selalu membuatmu menangis, pria yang telah mengambil banyak hal dari mu, pria yang menuntutmu untuk menjadi seseorang yang dia inginkan! Aku menyesali hari saat ku berkata “maukah kau jadi pacarku?” kepadamu. Hari itu, di Aula sekolah dengan jari kelingking yang KITA lingkarkan, yang membuat dua orang yang benar-benar berbeda menjadi satu. Kau menyesali hari itu—sambil menangis... kau-pun menangis; dan membujukku untuk berhenti menyesali apapun. Ya, kau benar, jangan pernah menyesali apapun!

Aku luluh...

Tatkala itu aku sadar bahwa KITA adalah KITA...

Dengan selusin janji kau yakinkan diriku bahwa kau akan berubah menjadi wanita soleh yang berbudi, berbakti, dan berprestasi. Aku menerimanya, dan memberimu waktu untuk melakukan itu. Dan seandainya kau benar-benar berubah, pilihan itu tak akan ada lagi. Hanya akan ada kau dan aku,--tanpa dia.





Wahai kau—yang selalu berhasil meluluhkan hati ini...

Kini, di antara waktu yang kuberikan untuk melakukan hal-hal yang harus kau lakukan aku menulis mu surat ini, jemari ini sebenarnya lemah untuk terus menekan tuts keyboardku menyusun kata demi kata, baris demi baris rintihan ini... Tapi hati ini terus memaksanya untuk bergerak membahasakan apa yang ingin jiwaku sampaikan untuk dirimu.

Aku menulisnya dengan sisa-sisa cinta yang sepertinya akan terus dan terus memekar (tergantung dirimu yang menentukan semekar apa bunga cintaku itu). Sesekali airmata memaksa keluar dari rongga mataku. Lihatlah! Betapa lemah hati ini sekarang... tapi ku harap, kau tak perlu lagi menangis. Kembali tersenyum dan bahagia melihat bulan separo serta bintang Sirius yang berpendar terang di langit selatan untuk KITA.

Berubahlah...

Ku mohon...260706x...

Teruslah melihat matahari, jangan kau terganggu oleh awan-awan yang selalu membujukmu untuk berhenti mencintaiku...

Jika suatu saat kau jenuh atau tak mampu lagi untuk menjadi wanita yang semua orang inginkan, bacalah kembali lembar-lembar tak berharga ini. Cermati kembali rangkaian pengorbanan yang indah yang pernah KITA goreskan dan kenanglah semua hal-hal bodoh yang selalu datang menghadang.



Ku menantimu di penghujung waktu,

Melihat kau seperti bidadari surga yang suci dan menenangkan hati

Entah itu perlu seribu senja

Dan berjuta peluh yang meletihkan

Ku kan tetap menantimu, menjadi

Bidadari itu...


Kamar yang pengap, 17 des ‘06









Karya: Hasrul Eka Putra